Selasa, 18 Februari 2014

Cara Efektif Mensapih dari ASI

ASi adalah makanan terbaik bagi bayi. Bayi membutuhkan ASi eksklusif tanpda pendamping makanan lainnya hingga usia 6 bulan. setelah usia tersebut organ pencernaan bayi mulai siap untuk makanan yang bersifat halus seperti bubur, enam bulan kemudian nasi tim hingga berlanjut sampai 2 tahun ASI masih dibutuhkan walaupun bayi sudah mendapatkan makanan nasi layaknya orang anak balita lainnya.
waktu 2 tahun merupakan waktu yang bukan sebentar, sehingga sang buah hati pada saat harus disapih / dihentikan ASI nya, maka tidak sedikit anak yang menolak dengan cara rewel atau badan panas yang tidak jelas penyebabnya. Sehingga ada orang tua yang lama sekali menyapih atau menghentikan ASI tersebut. Ada yang menyapih prosesnya hingga berbulan-bulan, akan tetapi hal ini tida saya alami. Pengalaman pribadi saya pada saat menyapih anak kami hanya membutuhkan paling lama 2 hari. Proses ini membutuhkan peran serta suami sebagai seorang Ayah bagi anak kita.

Banyak metode sapih ini dengan cara berbohong pada anak padahal metode ini akan menstimulus anak suka berbohong, tidak jujur dan tidak berani menghadapi kenyataan. yang kami lakukan saat mensapih yaitu

1. menyiapkan obat penurun panas, hal ini hanya untuk sebagai persiapan saja jikalau anak ternyata badan panas. tapi Alhamdulillah selama ini saat menyapih anak-anak belum pernah yang rewel sampai badan panas.

 2. ajak ngomong anak 2 minggu sebelumnya kalo dia akan disapih. waktu yang kami gunakan untuk mengajak ngomong anak ini biasanya waktu menjelang akan tidur, karena waktu akan tidur muncul gelombang alfa pada otak anak yang jika kita katakan (sampaikan pesan) selama seminggu lebih maka ia akan terekam di otak bawah sadar.

3. Hindarkan tidur dari Ibunya selama 1-3 hari. pada saat ini kami melakukan dengan cara sang Ayah menggendong anak hingga tertidur dan saat tidur anak ditidurkan bersama Ayah, tidak satu ranjang dengan Ibu. Pada saat ayah menggendong inilah perlu dibisikkan ulang kata-kata yang telah dikatakan pada sang bayi selama dua minggu ini.

 Ini telah kami lakukan pada ketiga anak kami dan hasilnya hanya butuh waktu 2 hari tanpa harus berbohong, anak kami sudah bisa disapih.Pada hari ketiga anak kami sudah bisa tidur bersama saya tanpa harus minta ASI lagi.

Jumat, 14 Januari 2011

Partner Curhat ?


Seringkali kita tertawa dengan lepas dikala berkumpul dengan teman-teman atau sanak saudara. Tetapi terkadang juga kita harus meneteskan air mata dan membutuhkan sebuah dekapan kehangatan yang menenangkan kegundahan hati.

Itulah kehidupan ! Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Saat sekarang tertawa esok harus menangis, dikala sore sedih tetapi pagi telah riang gembira.
Hal ini wajar terjadi karena kita manusia normal dengan emosi yang wajar. Tetapi apakah emosi tersebut dapat tersalurkan dengan baik? dengan media apa?
salah satu media yang nyata dalam meredam dan mengendalikan emosi yaitu CURHAT (Curahan Hati), entah dikala sedih atau senang.

Curhat memang menjadi media yang sangat ampuh tuk berbagi beban dengan sahabat atau saudara. walaupun mereka (pendengar curhat) hanya diam/tak membantu tetapi seolah-olah hati kian ringan. Begitulah CURHAT !

tetapi tidak semua CURHAT akan berdampak positif, tergantung kepada siapa dan kapan kita curhat. Karena Bisa Jadi Sahabat, teman atau saudara yang kita ajak Ngobrol, malah menjadi tamparan bagi hati kita. Acuh tak acuh.....saran yang bukan solusi (asal-asalan) .....atau malah jadi bahan tertawaan, karena mereka sedang malas mendengarkan permasalahan anda.

Jangan khawatir ! Coba lah Curhat dengan Sang Penguasa, Sang Pencipta, Sang Khaliq. Dia Maha Pendengar dan Maha Pemberi Solusi. Luapkan Isi hati kita lewat tetesan air mata di kala sujud. Jeritkan batin kita dengan setiap kata dzikir yang terucap. Memintalah solusi dengan doa tangismu di kala malam tiba, dikala setiap insan sedang tak berdaya dalam gelap, dikala hening berselimut dingin. Menangislah tuk mendengar solusi dari yang Maha Suci. Menangislah walau kita tak tahu menangis karena apa? tetapi menangislah dikala kita sujud padaNya dikala heningnya malam.

Jumat, 02 April 2010

TAS UNTUK PROMO


Sebuah Usaha atau Perusahaan dapat tumbuh dan berkembang besar, jika mempunyai pasar yang besar! salah satu alat untuk memperbesar pasar yaitu dengan metode promo dan marketing!

Bahkan seorang pakar marketing mengatakan, " Untuk merintis usaha dari 0, maka 75% konsentrasi daya dan finansial, terletak pada promosi!"

mengapa demikian? karena dengan promo yang tepat sasaran, maka usaha kita akan lebih ringan untuk kedepannya! "Branded" perusahaan kita akan lebih dikenal, maka Customer yang akan mencari kita dan bukan kita yang mencari Customer!
Banyak Orang kreatif dan Cerdas memulai Usahanya, tetapi akhirnya Kandas! kenapa demikian? karena kecerdasan dan kekreatifannya hanya terpaku/terkonsentrasi pada barang yang atau jasa yang dihasilkan saja. berbagai inovasi dapat ia buat, tetapi pasat tidak mengetahuinya! sehingga akhirnya terbengkalai.

banyak sekali media promo yang dapat kita pilih! contohnya dengan media Promosi Online
bukan kah pengguna internet kian hari menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Cara Promo yang lain yaitu dengan promo tak langsung! contohnya kita mencantumkan nama dan jenis usaha kita pada tas pembungkus nasi saat tasyakuran di rumah? atau kita coba menyumbangkan sebuah tas kain untuk acara sosial/keagamaan tertentu, tetapi di tas tersebut kita cantumkan nama, jenis dan alamat usaha kita. maka secara tidak langsung promo ini menjadikan tepat sasaran! Coba kunjungi http://wahliyarosa.co.cc
yang menyediakan berbagai pilihan tas promosi, tas nasi, tas seminar bahkan tas untuk ulang tahun.

seorang kenalan istri, tak sengaja telah mendapat 1000 order sandal pesanan, dari hasil promosi yang awalnya diremehkan!

coba kita belajar lebih mandiri, produktif, terus berkarya dan tak lupa juga selalu berpkir cerdas dalam mengenalkan produk usaha kita.

Selasa, 23 Februari 2010

Efek Negatif Video/Televisi Pada Bayi

Mungkin sekadar tambahan renungan, kenapa makin ke sini makin banyak anak yang mengalami gangguan konsentrasi, speech delay dll..

-------------------------------------------------------------------
(Bahkan Video yang diperuntukkan untuk bayi, ternyata punya efek buruk yang tersembunyi)

Saat ini banyak sekali video yang diperuntukkan untuk bayi dijual bebas di pasaran. Video-video tersebut berisi gambar-gambar lucu yang sangat disukai bayi. Jika dilihat isi dari video tersebut sangat bagus tetapi jika diteliti lebih dalam ternyata juga memiliki dampak buruk.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics, anak yang masih berusia dibawah 2 tahun, harus dijauhkan dari televisi. Hal itu karena beberapa penelitian menunjukkan menonton televisi pada usia dini bisa memicu gangguan perhatian atau konsentrasi pada anak.

Saat anak diberikan tontonan video yang berisi gambar-gambar lucu memang bisa membuatnya lebih tenang. Tetapi ada dampak negatif di kemudian hari yang akan muncul pada anak, yaitu ia akan sulit diatur dan berkonsentrasi.

Meletakkan boks bayi juga sebaiknya jangan berdekatan dengan televisi. Hal itu untuk menghindari paparan sinar televisi yang bisa berdampak negatif pada penglihatan bayi yang masih sensitif.

Dengan fakta tersebut, bukan berarti sebagai orang tua Anda menjauhkan buah hati dari televisi. Tetapi batasi paparan televisi pada anak Anda karena efek negatifnya yang baru akan dirasakan pada kemudian hari. Usahakan saat buah hati menginjak 2 tahun, Anda baru memperkenalkan video-video edukasi.

Sebelum buah hati menginjak usia 2 tahun Anda bisa memberikannya permainan lain yang jauh lebih bermanfaat dan tidak memiliki dampak negatif. Seperti memainkan jari, bercerita menggunakan buku kain, atau menggunakan benda-benda lain disekitar yang aman bagi buah hati. (sumber: http://www.facebook.com/l/8a8f7;VIVAnews.com)

Selasa, 16 Februari 2010

Jangan jadikan anak yatim piatu

Jangan jadikan anak yatim piatu

Tak sedikit orangtua menantikan kelahiran anak, tapi setelah lahir anak-anak ini dijadikan 'yatim-piatu' padahal orangtuanya masih lengkap. Sebagian orangtua begitu sibuk mengejar kebebasan finasial demi 'masa depan' sementara anak-anak terabaikan. Setelah finansial didapatkan, ternyata anak-anaknya rusak tertelan lingkungan. (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari)

Selasa, 09 Februari 2010

Kupu-kupu Rumah

"Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu. Sebagian anak balita sangat sabar menguji orangtua, karena itu jangan kalah sabar dengan anak untuk istiqomah bersabar menghadapinya. Meski melelahkan, ia berproses menuju kupu-kupu yang akan dinikmati kelak oleh para orangtuanya"

Senin, 01 Februari 2010

Bersama Anak Itu Asyik

Ayah Ibu, perhatikanlah di sekililing Anda. Apakah semua orang yang menikah itu diberikan dan dipercaya dititipkan anak oleh Allah? Atau apakah mereka langsung mendapatkan anak setelah menikah? Tentu tidak bukan? Sebagian pasangan akhirnya memutuskan untuk 'mengambil' anak orang lain atau mengambil di penitipan yatim piatu demi menghadirkan seorang manusia kecil di rumah bernama keluarga.

Maka, bersyukurlah Anda jika Anda ditakdirkan Allah termasuk orang-orang yang 'dipercaya' untuk dititipkan anak 'original' dari rahim Anda, dari darah daging suami dan Istri Anda sendiri.

Tapi Ayah Bunda, tak sedikit orangtua menantikan kelahiran anak, tapi setelah lahir anak-anak ini dijadikan 'yatim-piatu' padahal orangtuanya masih lengkap. Sebagian orangtua begitu sibuk mengejar kebebasan finasial demi 'masa depan' sementara anak-anak terabaikan. Setelah finansial didapatkan, ternyata anak-anaknya rusak tertelan lingkungan.

Saya sengaja menebalkan tulisan di atas. Setelah saya berkata-kata hal itu, mungkin di sebagian Anda berkecamuk pertanyaan: apakah berarti saya harus berhenti bekerja? Apakah berarti kemudian saya harus menyediakan waktu 24 jam untuk anak? Apakah berarti saya harus meninggalkan kegiatan sosial, amal dan dakwah saya, padahal saya diperlukan di masyarakat dan di kegiatan dakwah?

Ayah Bunda, saya ingin mengatakan kepada Anda: anak-anak sungguh tak butuh 24 jam waktu Anda! Bahkan saat mereka masih membutuhkan pengawasan lebih pun mereka tak menggunakan waktu 24 jam Anda semuanya. Saat mereka masih bayi misalnya, lihatlah, bukankah mereka lebih banyak tertidur? Anda dapat melakukan banyak hal saat mereka tertidur bukan? Apalagi setelah mereka beranjak remaja, mungkin Anda yang memohon-mohon pada mereka agar menyediakan waktu untuk Anda. Anda sesungguhnya memiliki banyak waktu jika pun Anda bersedia meluangkan waktu untuk bersama anak. (Baca tulisan sebelumnya "Bersama Anak Itu Asyik (1)" di sini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=275484941194.

Mungkin sebagian Anda memiliki banyak peran dalam kehidupan Anda: pemimpin perusahaan, karyawan, seorang ayah, seorang ibu, kader sosial masyarakat atau kader dakwah. Saat Anda bersedia mengambil peran itu, maka tentu Anda akan bertanggung jawab terhadap peran-peran Anda tersebut. Demikian juga, saat Anda melahirkan Anda, sungguh seharusnya Anda akan sangat, sangat, sangat sadar bahwa Anda akan diminta untuk meluangkan waktu untuk mereka.

Aktif di kegiatan masyarakat itu baik dan mungkin jadi ladang amal kebaikan, bekerja di kantor demi anak dan istri itu baik dan adalah ladang amal, membantu meringakankan beban suami juga ladang amal, aktif di kegiatan sosial itu ladang amal, aktif di kegiatan masyarakat juga ladang amal, aktif di kegiatan dakwah adalah ladang amal, tapi ayah Bunda, anak pun ladang amal!

Jangan sampai beramal dan dakwah kepada banyak orang, akibat anak tak dikelola dengan baik maka anak menjadi penghambat kegiatan sosial dan dakwah! Anak-anak diabaikan dengan alasan sibuk! Akhirnya tak sedikit orangtua ini dipuja dan dipuji masyarakat tapi mereka tak hadir dalam hati anak-anaknya.

Rasulullah yang dijamin masuk surga, kader Allah yang shalih, pulang perang saja menyediakan waktu untuk anak (cucu). Apalagi kita yang masuk surga saja belum tentu, kok berani-beraninya ngaku sangat sibuk dan tak mau meluangkan waktu untuk anak.

Jika tak mau meluangkan waktu untuk ayah bunda, pleaseeee jangan berani-beraninya lahirkan anak! Tapi jika Anda mau meluangkan waktu untuk anak, sepuluh persen (10%) saja untuk anak Anda dari 24 jam hidup Anda BERSAMA ANAK dan bukan hanya di DEKAT ANAK, sungguh itu jauh lebih dari cukup untuk anak-anak Anda. Come on Ayah Bunda.... muliakan anak Anda agar mereka muliakan kehidupan!

Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School

swooshdot.com