Selasa, 09 Februari 2010
Kupu-kupu Rumah
Kamis, 14 Januari 2010
Tips Agar Anak Balita Mandiri

Anak belajar dengan menirukan kepribadian dan pola kehidupan dari orangtuanya. Apa yang dilakukan orangtua akan ditiru oleh anak. Jika orangtua sering minta tolong dan menyuruh pembantu dengan "se-enaknya" saja, jangan terlalu berharap anak dapat hidup mandiri. Hidup mandiri pada anak tentu dimulai dengan kedewasaan dan kemandirian orang tua. Karena tidak terasa kita sebagai orang tua tingkah laku kita tidak kalahnya seperti seorang anak balita, yang segala keinginan harus terbeli dan didapatkan, ego kita mengalahkan ego seorang bayi yang menggenggam dot atau mainannya, sehingga saat dipinjam akan teriak dan menangis tak henti-henti:
Berikut ini beberapa tips untuk mengajarkan agar anak hidup mandiri:
-
Latihlah anak balita dengan hal-hal sederhana sejak dini, misalnya, memasukkan mainan ke kotak mainan yang disediakan atau memasukkan baju kotor ke tempatnya.
-
Jadilah "raw model" kemandirian bagi anak. Jika orang tua mandiri , anak akan meniru orang tuanya. jika orang tuanya mengerjakan sendiri terhadap pekerjaannya, maka anak pun akan berusaha demikian.
-
Melatih anak tak bisa sekali jadi. Jangan putus asa, meski hasil pekerjaan anak tak langsung sempurna. diperlukan motivasi yang tinggi dan keistiqomahan dalam mengajarkan berbagai hal terhadap anak, termasuk kemandirian.
- coba beri pengertian pada anak dengan komunikasi sederhana yang dimengertinya. Contoh: Jika anak terbiasa selalu merengek nangis jika ayah berangkat kerja karena ingin ikut coba ajak bicara dengan bahasa sederhana yang dimengertinya. Dan selalu pamit padanya walau dia menangis, jadi jangan pergi diam-diam tanpa sepengetahuan anak. proses menangisnya itu akan menjadikannya lebih matang dan mandiri dalam berpikir! bahkan ada artikel yang mengulas "Dengan Menangis Anakku Belajar"
Seiring dengan bertambahnya usia anak, beri tantangan tugas yang lebih rumit. Ini akan mencegah kebosanan sekaligus meningkatkan keragaman keterampilan anak.
-
Berikan instruksi kepada pembantu rumah tangga soal tugas-tugas yang harus dikerjakan sendiri oleh anak-anak.
-
Jika perbedaan usia anak-anak tak terlalu besar, biarkan mereka bernegosiasi dan bertukar tugas dengan saudara mereka.
-
Buat kesepakatan dengan anak soal tugas yang harus dilakukan sendiri dan tetapkan juga konsekuensi jika tidak dilakukan.
-
Jangan lupa memuji jika anak-anak mampu melakukan tugas-tugas di rumah secara mandiri.
Rabu, 16 Desember 2009
Tamengi pertahanan tubuh balita di Musim Hujan
di Indonesia umumnya musim hujan disertai dengan berbagai penyakit musiman, seperti gatal-gatal, demam berdarah, diare dan flu.
oleh karena itu perlu bagi Ibu untuk mempersiapkan diri dengan menjaga buah hati/anak kita, salah satunya dengan memberikan madu.
dan bagi yang memiliki buah hati yang masih bayi. perhatikan dengan seksama kondisinya dan jaga selalu kondisinya agar tetap hangat dan tidak masuk angin.
bila perlu berikan mereka vitamin penambah nafsu makan sehingga kondisi bisa tetap stabil.
Senin, 05 Oktober 2009
Pukulan Menurunkan IQ - Anak

Memukul anak sebagai media penyadaran ternyata tidak hanya berdampak buruk terhadap psikologis tetapi juga tingkat kecerdasan. Penelitian yang dilakukan Universitas New Hampshire, AS melaporkan, sebagian besar dari anak yang kerap dianiaya orang tua memiliki tingkat intelegensia (IQ) yang rendah.
Penelitian juga mencatat hasil lain yang mengejutkan dimana anak yang sering diperlakuan keras akan mengalami kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Semua orang tua pasti ingin anak mereka pintar. Penelitian ini menunjukan bagaimana efek negatif dari perlakukan keras orang tua dan koreksi kesalahan perlakuan dilain pihak guna mencegah hal itu terjadi," tukas salah satu peneliti. Murrat Strauss dari Universitas New Hampsphire, AS seperti yang dikutip Yahoonews, pekan lalu.
Penelitian ini menggunakan metodologi yang menghubungkan antara perlakuan keras dan intelegensia. Metodologi tersebut mengaitkan antara sejumlah hubungan lain semisal status ekonomi.
"Anda mungkin akan mengatakan buktikan, tapi saya pikir metode ini akan memberikan berapa laternatif. Saya yakin bahwa perlakukan keras dari orang tua akan membuat perkembangan mental dan kemampuannya menurun secara perlahan," tegasnya.
Penelitian mengambil sampel 1510 anak yang terbagi menjadi dua kelompok rentang usia. kelompok pertama berpopulasi 806 anak dengan rentang usia 2-4 tahun dan kelompok kedua berpopulasi 704 anak dengan rentang usia 5-9 tahun. Peneliti lalu memberikan tes IQ diawal dan 4 tahun kemudian.
Kedua kelompok masing-masing terdiri dari anak yang mendapatkan perlakukan keras dan tidak dari masing-masing orang tua anak. Hasilnya, kata Strauss, tercatat hal yang siginifikan. Sebagian dari anak-anak yang mengalami perlakuan keras mengalami keterlambatan perkembangan IQ dari tes awal dan tes lanjutan 4 tahun kemudian. Peningkatan IQ justru terjadi pada anak yang tidak mengalami perlakuan keras.
Menurut Pengamat Anak dan Keluarga dari Duke Univesity, Jennifer Lansford menilai hasil penelitian begitu menarik. Dia juga berpendat, penelitian yang dilakukan memiliki dasar fondasi yang kuat. "Mengacu pada perkembangan anak, dimungkinkan bahwa anak dengan IQ rendah berkaitan dengan masalah displin secara fisik yang berlebih," tukasnya.
Faktor PsikologisPenelitian kemudian mencari cara mengapa IQ anak secara siginifikan mengalami penurunan usai mendapatkan perlakukan keras. Kesimpulan mengacu pada faktor psikologis anak selama mendapatkan perlakuan keras.
"Setiap orang pasti percaya, dipukul oleh orang tua tentu memberikan bekas trauma mendalam pada anak," papar Strauss. Lebih jauh dia menjelaskan, trauma itu berefek stress pada anak saat menghadapi situasi sulit dan kondisi tersebut membuat anak kesulitan mengeluarkan kemampuannya.
"Dengan memukul, orang tua hanya bisa mendapatkan perhatian dan sikap patuh si anak saat dipukul saja. Ini menghalangi anak untuk berpikir bebas," komentar Elizabeth Gershoof, Pakar Anak asal Universitas Texas. Sehingga, kata dia, anak hanya berprilaku benar saat dipukul saja atau anak hanya melakukan sesuatu karena teringat akan pukulan, bukan inisiatif dari anak sendiri.
Sebab itu, Gershoff menyarankan kepada para orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan memukul saat anak melakukan kesalahan atau ketika sikap anak tidak pantas. Cobalah bersikap tegas tetapi hindari kekerasan. Menegur anak tidak harus dengan memukul! Gunakan cara yang lebih bijaksana.
sumber : republika.co.id
swooshdot.com
abenicooks.com