Kamis, 08 Oktober 2009
Balasanku Untukku Ibu
Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu
Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai
Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembok rumah dan meja makan
Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur
Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!"
Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga
Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasann ya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu
Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar
Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam
Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan teman-teman kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain
Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah
Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode
Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.
Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu
Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya
Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,
Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi
Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.
Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."
Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."
Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ..... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri
Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu
Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ..... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."
Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."
Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."
Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya
dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam
MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.
Post by Gibran Bogel Galuh (catatan)
Fromi : collection inspiration
Ungkapan Jujur Seorang Anak
Semoga bermanfaat, terutama bagi yg belum membacanya.
Untuk renungan para orangtua....
Ungkapan Jujur Seorang Anak
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ......",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum"
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam lingkungan rumah.
Semoga bermanfaat, dan menghasil generasi anak2 yang lebih baik.
http://www.swooshdot.com
http://www.abenicooks.com
Senin, 05 Oktober 2009
Pukulan Menurunkan IQ - Anak

Memukul anak sebagai media penyadaran ternyata tidak hanya berdampak buruk terhadap psikologis tetapi juga tingkat kecerdasan. Penelitian yang dilakukan Universitas New Hampshire, AS melaporkan, sebagian besar dari anak yang kerap dianiaya orang tua memiliki tingkat intelegensia (IQ) yang rendah.
Penelitian juga mencatat hasil lain yang mengejutkan dimana anak yang sering diperlakuan keras akan mengalami kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Semua orang tua pasti ingin anak mereka pintar. Penelitian ini menunjukan bagaimana efek negatif dari perlakukan keras orang tua dan koreksi kesalahan perlakuan dilain pihak guna mencegah hal itu terjadi," tukas salah satu peneliti. Murrat Strauss dari Universitas New Hampsphire, AS seperti yang dikutip Yahoonews, pekan lalu.
Penelitian ini menggunakan metodologi yang menghubungkan antara perlakuan keras dan intelegensia. Metodologi tersebut mengaitkan antara sejumlah hubungan lain semisal status ekonomi.
"Anda mungkin akan mengatakan buktikan, tapi saya pikir metode ini akan memberikan berapa laternatif. Saya yakin bahwa perlakukan keras dari orang tua akan membuat perkembangan mental dan kemampuannya menurun secara perlahan," tegasnya.
Penelitian mengambil sampel 1510 anak yang terbagi menjadi dua kelompok rentang usia. kelompok pertama berpopulasi 806 anak dengan rentang usia 2-4 tahun dan kelompok kedua berpopulasi 704 anak dengan rentang usia 5-9 tahun. Peneliti lalu memberikan tes IQ diawal dan 4 tahun kemudian.
Kedua kelompok masing-masing terdiri dari anak yang mendapatkan perlakukan keras dan tidak dari masing-masing orang tua anak. Hasilnya, kata Strauss, tercatat hal yang siginifikan. Sebagian dari anak-anak yang mengalami perlakuan keras mengalami keterlambatan perkembangan IQ dari tes awal dan tes lanjutan 4 tahun kemudian. Peningkatan IQ justru terjadi pada anak yang tidak mengalami perlakuan keras.
Menurut Pengamat Anak dan Keluarga dari Duke Univesity, Jennifer Lansford menilai hasil penelitian begitu menarik. Dia juga berpendat, penelitian yang dilakukan memiliki dasar fondasi yang kuat. "Mengacu pada perkembangan anak, dimungkinkan bahwa anak dengan IQ rendah berkaitan dengan masalah displin secara fisik yang berlebih," tukasnya.
Faktor PsikologisPenelitian kemudian mencari cara mengapa IQ anak secara siginifikan mengalami penurunan usai mendapatkan perlakukan keras. Kesimpulan mengacu pada faktor psikologis anak selama mendapatkan perlakuan keras.
"Setiap orang pasti percaya, dipukul oleh orang tua tentu memberikan bekas trauma mendalam pada anak," papar Strauss. Lebih jauh dia menjelaskan, trauma itu berefek stress pada anak saat menghadapi situasi sulit dan kondisi tersebut membuat anak kesulitan mengeluarkan kemampuannya.
"Dengan memukul, orang tua hanya bisa mendapatkan perhatian dan sikap patuh si anak saat dipukul saja. Ini menghalangi anak untuk berpikir bebas," komentar Elizabeth Gershoof, Pakar Anak asal Universitas Texas. Sehingga, kata dia, anak hanya berprilaku benar saat dipukul saja atau anak hanya melakukan sesuatu karena teringat akan pukulan, bukan inisiatif dari anak sendiri.
Sebab itu, Gershoff menyarankan kepada para orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan memukul saat anak melakukan kesalahan atau ketika sikap anak tidak pantas. Cobalah bersikap tegas tetapi hindari kekerasan. Menegur anak tidak harus dengan memukul! Gunakan cara yang lebih bijaksana.
sumber : republika.co.id
swooshdot.com
abenicooks.com
Selasa, 29 September 2009
Belajar Membaca untuk Bayi (metode Glenn Doman)
metode glenn doman merupakan sebuah tata cara mengajari bayi agar bisa membaca. hal ini pernah dilakukan penelitian dan terbukti bahwa anak usai 14 bulan yang baru mulai bicara dapat menterjemahkan tulisan-tulisan dalam bentuk kata-kata, atau dengan kata lain bayi usia 14 bulan sudah mulai bisa membaca.
cara yang di gunakan glen doman cukup sederhana dengan menggunakan metode kartu dan pengkondisian lingkungan: ada beberapa tahap yang perlu di perhatikan yaitu :
- Persiapan, bertujuan agar anak siap menerima materi yang akan diajarkan dan anak tidak terbebani dengan metode ini. sehingga bayi merasa dia sedang bermain.
- belajar membaca dengan metode glenn doman
- mengulangi terus menerus dan melakukan evaluasi serta check kemajuan bayi
sistem pengajaran metode ini dengan menggunakan kartu untuk belajar dan saat ini telah banyak dijual di berbagai toko buku card/kartu tersebut. Apabila kita mau untuk lebih kreatif, maka metode ini bisa kita buat sendiri. langkahnya yaitu :
- menyediakan kertas berukuran 10 x 15 cm
- buatlah tulisan yang sering digunakan untuk komunikasi dengan anak, misal ayah, ibu, pipis, makan tidur atau yang lainnya.
- gunakan warna merah untuk huruf tulisannya, hal ini dikarenakan warna merah lebih merangsang dan menarik bayi otak bayi. tebal tulisan kurang lebih 55 pt untuk ukuran times new roman
- lebih baik gunakan juga gambar atau simbol yang identik dengan tulisannya, misal ayah, maka diatasnya diberikan foto ayahnya.
- tempelkan tulisan agar si-kecil mudah melihatnya dan mudah terjangkau jika ia ingin bermain dengan kartu-kartu tersebut. hal ini laksana pembelajran berulang-ulang. karena dengan bayi/anak sering melihatnya maka dia akan lebih mudah untuk mengingatnya.
gunakan saat bayi sedang rileks! umunya dalam satu hari terdapat 5 -10 menit bayi tenang, sehingga ia akan lebih perhatian. jika dia mulai tidak perhatian, hentikan untuk sementara dan lihat kondisinya. apakah memungkinkan untuk dilanjutkan! kemudian ulangi terus dalam satu minggu, dan jika masuk minggu ke dua, untuk materi pertama perlu diulangi lagi sebagi flash back/pengingat.
sekali lagi, jangan terlalu memaksakan diri! selamat mencoba
http://www.swooshdot.com
http://www.abenicooks.com
Senin, 28 September 2009
TOILET TRAINING (Mengajarkan anak agar tidak ngompol)

Toilet training adalah melatih anak untuk belajar buang air kecil dan air besar dikamar mandi, sehingga anak / balita kita tidak lagi ngompol di lantai, atau BAB (buang air besar) di kasur.
setiap anak mempunyai umur kesiapan yang berbeda-beda dalam tolet training ini, tetapi umumnya toilet training ini mulai bisa ditangkap oleh anak usia 18 - 24 bulan.
pelu di ketahui, ciri-ciri kesiapan anak dalam menerima training ini, yaitu :
- dapat mengikuti perintah yang sederhana.
- Mengerti kata-kata yang di ucapkan untuk dia.
- Bisa mengungkapkan sesuatu secara lisan, walau tidak jelas dan lancar.
- Bisa mengendalikan otot-otot yang bertanggung jawab atas sistem ekskresi.
- Menunjukkan ketertarikan dalam menggunakan toilet.
- Bisa pergi ke kamar mandi, duduk di atas toilet dan kemudian menutupnya.
Mengajarkan anak untuk buang air di kamar mandi bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses ini kadang menghabiskan waktu 3 - 6 bulan, atau lebih. Biasanya para ibu mulai mengajari anak untuk buang air di kamar mandi pada siang hari, tapi saat malam anak masih menggunakan diapers. Diperlukan waktu tambahan untuk mengajarkan anak agar tidak mengompol dikasur saat malam hari.
Namun ada beberapa hal yang menyebabkan pengajaran untuk buang air di toilet berhenti seperti dalam perjalanan jauh, pindah rumah yang membuat anak harus beradaptasi lagi atau saat anak sedang sakit khususnya diare.
perlu mempersiapkan anak sejak dini, dalam toilet training ini, dengan cara memberikan pemahaman yang sederhana, bahwa kalo pipis dan BAB di kamar mandi. kata-kata ini perlu diucapkan setiap kali dia ngompol atau BAB. ada juga yang menggunakan toilet/WC duduk mainan untuk anak-anak agar dia mulai memahami tentang BAB harus di kamar mandi.
usahakan setelah bangun tidur, ajak anak kita kekamar mandi untuk di "tatur" (dipipiskan), hal ini juga akan menjadi kebiasan barudan menjadikan media adaptasi baginya bahwa kalo pipis harus dikamar mandi.
Jika anak sudah memasuki usia 3 tahun atau lebih tapi belum menunjukan tanda-tanda, sebaiknya sudah mulai diajarkan bagaimana buang air di kamar mandi. Serta dibutuhkan kesabaran bagi orangtua dalam mengajarkan anaknya, karena kadang anak masih suka lupa untuk bilang ke orangtuanya jika ingin buang air kecil.
http://www.swooshdot.com
Rabu, 16 September 2009
Habbatus sauda
Habbatus sauda (Nigella Sativa/ Black Seed) adalah obat herbal alami yang telah digunakan ribuan tahun lamanya (lebih dari 3000 tahun). Terbukti dengan ditemukannya minyak habbatus sauda di pekuburan Tuthankhamen ( kuburan raja-raja mesir kuno). Dahulu, minyak habbatus sauda ini hanya boleh digunakan oleh raja dan keluarganya. Habatussauda juga dikonsumsi oleh raja-raja jaman Yunani kuno dengan dijadikan tanaman ini sebagai tanaman yang berkhasiat membantu mereka diakhir-akhir kehidupannya. Di beberapa negara di benua asia (terutama Asia timur bagian tengah) dan benua Eropa Timur bagian tengah, habatus sauda digunakan untuk mengangkat derajat kesehatan dan sebagai pengobatan herbal utama pada banyak penyakit ringan dan berat.
Habbatus sauda merupakan suplemen obat alami yang bekerja membangkitkan dan meningkatkan system kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mengusir dan mempertahankan tubuh dari serangan berbagai macam penyakit.
Analisis dan publikasi studi yang telah dilakukan dibeberapa Negara (Jepang, Pakistan, Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa) pada seperempat abad terakhir menunjukkan bahwa habatus sauda memiliki kandungan zat nutrisi yang sangat tinggi seperti:
- - sekitar 40% minyak konstan (fally oil content)
- - 1,5% minyak esensial (essential oil content)
- - 15 macam asam amino
- - protein
- - ion kalsium
- - karbohidrat
- - zat besi
- - seng
- - fospor
- - ion sodium, dan
- - potasium
Berikut pemaparan para dokter dan ilmuwan mengenai habbatussauda setelah dilakukan penelitian secara empiris dan klinis Prof. Dr. Hildbert Wanger (Germany):
”Habbatussauda terbukti menyembuhkan pasien alergi, neuradermitis, asthma, dan lemahnya daya tahan tubuh”
Prof. Lutz Bannasch (Germany):
”Oil habbatussauda memiliki khasiat antitumor tanpa efek samping seperti terjadi pada kemoterapi dan penyinaran”
Dr. Stanley Kopok (USA):
”Habbatussauda memiliki peran sangat penting untuk mencegah tumor dan dalam jangka waktu lama memperkuat sistem kekebalan tubuh”
Dr. Tajul Aris Yang ( Malaysia):
”Omega yang terkandung dalam habbatussauda lebih besar 10 kali lipat dari pada DHA dan EPA”
Dalam sebuat Hadist shohih Bukhori Muslim, Rasulullah telah menganjurkan kita menggunakan habbatus sauda. ”Gunakanlah habbatussauda karena di dalamnya terdapat obat untuk segala macam penyakit, kecuali maut” (HR. Bukhori Muslim)
Beberapa kelebihan Habbat’s dibanding produk Habbatussauda yang lain:
- Terbuat dari habbatussauda jenis Balady, Mesir yang merupakan habbatussauda terbaik dunia yang digunakan dunia pengobatan di Eropa dan Amerika
- Minyak habbatus sauda diproses dengan mesin teknologi tinggi, cold pressing sehingga kandungan-kandungan zat bermanfaat yang terdapat di dalam habbatussauda tidak rusak
- Menggunakan plastik kapsul yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan dijamin kehalalannya yaitu V-cap (vegetables capsul) yang terbuat dari saripati tumbuhan
- Produk Habbat’s diracik dengan tambahan royal jelly, minyak zaitun dan madu sehingga menambah khasiat produk ini. Madu yang digunakan adalah madu berkualitas dari Mesir, khusus untuk royal jelly & bee polen menggunakan bahan yang telah diekstrakkan sedangkan minyak zaitun yang digunakan adalah minyak zaitun Tursina yang sudah terkenal kualitasnya
- Produk Habbat’s telah memiliki sertifikasi dari Departemen Kesehatan RI
- Madu produk Habbat’s berasal dari lebah penghisap bunga habbatussauda sehingga mengandung khasiat madu dan habbatussauda sekaligus.
- Harga murah karena bahan dasar di import dan diproduksi langsung di Indonesia
Rabu, 02 September 2009
Bagaimana Mengatasi Diare Pada Bayi?

Bayi anda mengalami perubahan pola frekuensi buang air besar, sehingga lebih berair dan lebih sering dibanding sebelumnya, maka perlu diwaspadai bayi/anak anda terkena diare.
Bayi umumnya melakukan BAB (Buang Air Besar) 10 kali sehari. tetapi setiap anak memiliki kondisi yang berbeda-beda, maka perlu kiranya ibu untuk lebih memahami kondisi anak. Pada beberapa kasus terdapat bayi yang hanya buang air besar sekali sehari, terkadang ada juga yang 3 - 4 kali seminggu. Jika ibu sudah memahami pola BAB bayi anda, maka jika terdapat kejanggalan karena bayi anda frekuensinya BAB lebih tinggi dan bentuk BAB-nya berbeda, maka ibu perlu curiga diare.
jika bayi diare terdapat mitos bahwa ASI harus dihentikan, maka itu bukanlah pilihan atau jawaban yang tepat. karena ASI masih dapat diteruskan, akan tetapi jika bayi/anak ibu menggunakan susu formula maka perlu untuk mengurangi takarannya (misal menjadi 1/2 formula normal) contoh : jika anak ibu minum susu formula 60 cc dengan 2 takar susu, maka ibu dapat memberikannya 60 cc dengan 1 takar susu. Hal ini dilakukan karena dalam susu formula terdapat laktosa, yang dapat merangsang pencernaan bayi ibu sehingga diare tidak berhenti. Akan tetapi jika ibu masih ragu dengan mengurangi takaran susu anak ibu, maka ibu dapat mengganti susu anak ibu dengan susu formula yang free laktosa.
Berhati-hatilah terhadap penanganan yang terlambat karena diare dapat menyebabkan anak/bayi ibu dehidrasi. Kondisi dehidrasi inilah yang dapat merenggut nyawa-nya. berikan air putih atau teh dengan cara disuapi setelah buang air besar, fungsinya untuk menggantikan cairan yang telah hilang.
segera konsultasikan dengan dokter terdekat jika diare diikuti dengan panas tinggi, muntah dan berak darah! coba kenali penyebab dia (anak/bayi) ibu terkena diare! apakah karena kebersihan yang kurang terjaga, atau karena alergi laktosa atau karena tidak cocok dengan sus formulanya, atau yang lainnya.
dengan mengetahui penyebab-penyebab tersebut ibu dapat mengantisipasi agar anak ibu tidak kembali terkena diare.